Pages

Sunday, June 8, 2014

Escape to Karimunjawa (end)

Karimunjawa, 27 Mei 2014

Hari terakhir di Karimunjawa, flash back ke bulan-bulan sebelumnya ketika kita merencanakan perjalanan ini. Dan hari ini kita harus mengakhirinya. Belum tahu kapan akan kembali ke sini lagi. Indonesia punya ratusan ribu pulau dan Karimunjawa hanyalah satu titik kecil dari keindahan Indonesia. Dan disini juga saya baru sadar harus lebih memperdalam kemampuan berenang, belajar diving, dan 'banana boat??''
Keindahan alam, penduduk yang ramah, makanan yang fresh menutupi semua kekurangannya. Selama di Karimunjawa juga tidak ada yang sakit. Tidak ada yang mengeluh ini dan itu.

Hanya sedikit saran buat yang mau kesana, siapkan cemilan yang banyak. Siapkan mental juga, karena apapun bisa terjadi disana.

Siapkan juga flash disk untuk memindahkan foto dari tour guide, dan ga perlu skill foto yang hebat. Di Karimunjawa, semuanya photogenic, mau difoto pake kamera sejelek apapun hasilnya pasti cantik. Pencahayaan disana sudah cukup kuat. Pake kamera ponsel saja sudah cantik. Apapun bisa difoto.
Hanya satu saja, jangan goyang saat foto.

Selesai sarapan, kita berangkat ke pelabuhan menunggu jemputan kapal. Kejutan terakhir, kita dapat kursi VVIP. Tapi tetap saja, biarpun VVIP, goyangan kapal pasti bikin mual, untung sudah makan obat mabuk.

Siang hari, sampai di Jepara. Makan siang di kota Kudus, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta.
Nasi Gudeg khas Jogja
Tujuh jam perjalanan melewati berbagai kota, Kudus, Semarang, dll, akhirnya sampai di kota Yogyakarta. Sampai disana kita makan di RM.Gudeg Sagan, mencoba makanan khas Yogyakarta. Gudegnya seperti nangka yang dikecapin, jadi warnanya hitam dan manisss.

Selesai makan, saya berpisah dengan yang lain karena melanjutkan 4 hari sisa perjalanan saya, sendirian.
Sampai di hotel yang kamarnya kecil, kamar mandi di luar dengan harga terjangkau. Karena sudah malam, capek saya hanya sempat gosok gigi, cuci muka dan langsung tidur.


Yogyakarta, malam hari 27 Mei 2014

Saturday, June 7, 2014

Escape to Karimunjawa (V)

Seharusnya hari ini kita sudah pulang dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Namun karena cuaca buruk, kita 'terdampar' sehari lagi di Karimunjawa.

Paginya selesai packing, dengan kapal kita dibawa ke 'darat' Karimunjawa. Dibawa ke rumah guide tour dimana kita makan siang. Setelah itu kita dibawa ke 'hotel baru' kita, Omah Alchy. Penginapan disini lebih oke pastinya. Karena kita berenam nyewa dua kamar jadinya harga dibagi lebih murah. Boleh dibilang semua lengkap disini, AC, toilet, TV, bahkan ada novel juga tapi dalam bahasa asing. Tersedia kano, di ujung dermaga tersedia kursi pantai, bahkan ada bar kecil. Tapi semua ini hanya satu hari saja kita nikmati.
Sorenya yang lain pada berkano ria, aku sendiri hunting foto, sunset dll.

Jajanan dari hasil laut
Menu makan malam
Malamnya kita pergi ke alun-alun kota. Semacam lapangan, trus ada yang jualan cenderamata, makanan, minuman, jajanan. Untuk makan malam kita mencari lobster. Akhirnya dapat ibu yang jualan lobster, tinggal tiga lobster yang tersisa. Lagi asyik menawar harga, eh di belakang tiba-tiba muncul seorang ibu yang berani bayar harga awal lobster. Jadinya kita langsung ambil saja, tidak berani menawar lagi.

Sambil menunggu lobster, udang pari, dan cumi dipanggang, kita berkeliling alun-alun mencari oleh-oleh dan jajanan. Ada jajanan sosis, kroket, dll yang semuanya dibuat dari hasil laut. Aku mencoba jus rumput laut yang menggunakan sirup jagung, rasanya agak pahit. Kemudian membeli oleh-oleh.

Salah satu sudut alun-alun
Selesai keliling kita kembali untuk makan. Tikar digelar kemudian makanan disajikan ditengah-tengah. Lobster dan udangnya sudah pasti fresh. Jadi ga ada komentar buat makanannya. Cuminya yang mungkin kemahalan. Minuman pendamping adalah air kelapa.

Selesai makan, kita kembali ke penginapan. Kabar baiknya adalah besok kapal sudah bisa berangkat.

Karimunjawa, 26 Mei 2014


wordt vervolgd.....





Friday, June 6, 2014

Escape to Karimunjawa (IV)

Tanggal 25, hari ketiga di Karimunjawa.

Selesai sarapan, langit mendung. Kemudian hujan deras, hampir mirip badai dan semuanya mengungsi ke kamar. Sekitar satu jam kemudian, hujan berhenti.

Hari ini, kegiatannya adalah diving. Tapi yang ikut cuman lima orang teman saya. Saya belum berani ikut.
Siap siap (ga jadi) diving
Guide divingnya datang dan briefing sesaat tentang cara-cara diving. Setelah selesai, kami dibawa ke laut di dekat Pulau Menjangan (lupa ntah yang besar atau kecil). Sekali diving itu dua orang ditambah guidenya. Diver pertama dua orang turun, sesaat kemudian naik kembali, trip kedua turun kemudian naik. Trip ketiga tinggal satu orang. Karena tabung oksigen masih sisa, aku tiba-tiba ingin ikut. Oke, wet suit dipakai, pemberat dipasang, tabung oksigen dipasang. Turun ke laut yang masih dangkal, tiba-tiba rasa takut datang, hidung ga enak ditambah guidenya bilang "kalau pilek nanti dibawah kepala akan sakit". Jadinya saya batal.

Sebenarnya rasa takut ini mungkin karena diving tiba-tiba langsung ke lapangan. Aku sih maunya belajar diving dari awal sampai mendapat license.
Dari teman sih katanya diving di dalam pemandangannya keren.

Sambil menunggu, jadinya snorkeling sendirian, lagian airnya lebih jernih dibanding spot kemarin. Dan kali ini tidak pakai baju pelampung sama sekali. Ternyata memang tidak apa-apa, cuman kaki harus bergerak terus.
Teman lainnya sambil menunggu, berburu ikan pari. Hasilnya dapat dua pari, satu ikan kecil.

Makan siang di Pulau Menjangan, pasirnya memang tidak seindah pantai kemarin. Tapi disini ada Resort, tidak ramai. Suasananya tenang, bahkan kita bisa kano keliling pulau. Menu makan siang salah satunya pari yang ditangkap, dibakar. Rasanya fresh ditambah sambal. Penutupnya adalah buah semangka.

Selesai makan, kami dibawa ke sebuah penangkaran ikan hiu. Tempatnya dekat dengan Wisma Apung. Mungkin hanya 10 menit naik kapal. Penangkaran disini lebih besar dan lebih lengkap. Ikan hiunya lebih besar dan warnanya lebih gelap. Untuk berenang bersama ikan hiu, kita harus bayar. Dari kita enam, cuman tiga orang yang masuk dan berenang.


Aku ada disini???? 
Di penangkaran sini juga tersedia permainan banana boat, jump boat. Akhirnya kita berenam coba banana boat. Ini PERTAMA kali aku naik banana boat. Begitu naik pegangan banana boat dipegang erat. Didepan ada speed boat yang menarik. Pelan-pelan, kemudian tiba-tiba cepat dan boat yang kita naiki terbalik. Aku masih memegang erat pegangannya, sedangkan yang lain semua melepas pegangan dan sudah terapung di atas laut. Jadilah tinggal aku yang diseret terus mungkin 30 detik sampai yang bawa speedboat menyadari ada aku yang masih tertinggal. Rasanya diseret itu sesak, teman lain sudah pada horor nengok aku terseret apalagi di bawah ada karang dan bulu laut yang tersebar. Untungnya tidak terjadi apa-apa. Sisa 15 menit aku hanya duduk di samping supir speedboat, tinggal teman lainnya yang bermain speedboat.

Pelajarannya kalau naik speedboat, jangan pegang terus tuh pegangan kalau jatuh dilepas saja kan uda pakai pelampung. Dan yang terpenting, mungkin untuk waktu lama aku tidak akan mencoba banana boat lagi. Kalau ga salah, di sini juga salah satu teman tertusuk bulu babi lagi. Dan habis jadi tontonan turis. Memang tidak berhasil naik banana boat tapi aku sudah berhasil diseret bersama banana boat. Keren!!
Foto bersama ikan buntel


Selesai banana boat, kita ke penangkaran sebelah. Di sini tersedia ikan buntel (yang bisa mengembang dan berduri seperti ikan fugu), penyu, hiu pari. Untuk berfoto kita harus bayar 5000 rupiah. Kalau foto dengan penyu terlalu berat, jadinya aku pilih foto dengan ikan buntel. Petugas disana memijat-mijat ikannya hingga mengembang kemudian kupegang. Kalau tajam sih enggak, seperti pegang buah durian hanya disini ikan berdenyut-denyut dan bisa mengempis. Kalau mengempis harus dimasukkan ke air lagi.

Sorenya kami kembali ke Wisma, selesai mandi berita buruk itu datang. Besok cuaca buruk dan kapal tidak bisa jalan. Seharusnya besok kita sudah kembali ke Jepara. Aku pergi ke Yogya dan kawan ada yang balik naik pesawat. Selama ini memang tidak terpikir akan cuaca di laut. Kalau saya sih, ruginya satu hari di Yogya harus hangus. Tapi tiga kawan lain terpaksa harus mengganti jadwal penerbangan, karena sudah terlanjur membeli tiket pulang. Parahnya lagi, tidak ada kepastian kapan kapal bisa berangkat lagi karena cuaca disana ternyata tiap hari diupdate, tidak bisa tahu cuaca dua hari kedepan. Yang mau ke Karimunjawa tidak bisa datang, yang mau pulang dari Karimunjawa juga tidak bisa berangkat. Jadi besok kita benar-benar terisolasi.

Selesai mengurus tiket, menelepon ke rumah, kita semua sepakat besoknya pindah penginapan.

Makan, tidur dan menunggu keesokan harinya. Mungkin hujan di pagi hari itu pertanda. Siapa yang tahu??

ser continuado...

Thursday, June 5, 2014

Escape to Karimunjawa (III)

Hari kedua di Karimunjawa
Niatnya sih mau motret sunrise tapi baru bangun jam 6, mataharinya sudah keburu naik dan tertutup awan. Di sana jam 6 uda kayak jam 7 di Siantar. Mata otomatis sudah terbuka karena terang. Di luar masih sepi, tetangga masih pada tidur.

Jam 7 sarapan disiapkan, kalau tidak salah sarapannya nasi soto khas Jawa (tanpa santan namun beraroma rempah).
Selesai makan bersiap-siap menunggu kapal yang akan membawa kita keluar sampai sore nanti.
Siap-siap bersnokeling
Kapal akhirnya datang dengan dua awak kapal dan meluncurlah kita. Selama perjalanan yang nampak hanya air dan pulau-pulau kecil. Yang indah adalah warna air lautnya, mulai dari warna biru muda, tua, setengah muda, setengah tua semua ada.

Spot pertama tempat snorkel itu di Pulau Burung. Airnya hangat dan berwarna biru gelap. Pakai kaki bebek, pasang kacamata plus pipa disamping(yang agak sulit digunakan) dan... tunggu semua kawan sepakat buka pelampung dan terjun begitu saja. Aku yang baru pertama kali snorkel belum berani mencopot baju pelampung. Dan kita terjun ke laut, salah satu mas yang dikapal juga ikut turun sambil menenteng kamera, beliau yang bertugas memfoto-foto kita selama di Karimunjawa (sudah termasuk paket tour).

Renang di laut itu rasanya kayak di kolam, hanya di laut airnya hangat dan ada ombak yang menghantam setiap saat. Untungnya cuaca cerah dan ombak tenang. Selesai adaptasi, barulah saya snorkeling. Kawan-kawan sudah renang jauh, sudah naik turun. Sial, tahu gitu dulu aku tamatin les renangku.

Cukup lama kita bermain di sana, foto-foto satu persatu. Karena aku pakai pelampung, jadinya susah difoto di dalam. Di dalam karang tersebar dimana-mana, namun ikan-ikan kecil tidak begitu banyak.

Menu makan siang
Menjelang siang kita naik dan dibawa ke pantai di sebuah pulau (lupa namanya). Kita dibiarkan bermain di pantai, sedangkan kedua mas awak kapal menyiapkan makan siang. Pantainya cukup ramai mulai dari turis lokal maupun luar. Pasirnya sudah pasti lembut, airnya bening bebas bulu babi. Ya udah, berenang kesana kemari, duduk di pantai dijemur panasnya matahari siang. Kebetulan, tidak bawa gadget jadinya cuman duduk memandang orang bermain di pantai.

Makan siang sudah siap. Tikar digelar agak jauh dari pantai. Ikan-ikan yang baru ditangkap dibakar didampingi dua macam sambal trus sayurnya kacang panjang+tempe ditauco. Minumnya air mineral. Walaupun ala kadarnya, namun freshnya ikan sudah cukup bikin lahap.

Selesai makan, istirahat, kita dibawa ke pantai Tanjung Gelap. Sewaktu ke sana kapal kita harus melewati hujan deras sampai kita harus menunduk. Sampai disana, cuaca berubah cerah. Kapal merapat ke pantai, dan untuk snorkeling kita berenang dari pantai sampai tengah. Nah, kali ini nekad ikut teman ga pake baju pelampung renang ke tengah laut. Dari pantai sih oke, sudah agak jauh kok ombaknya kencang, tubuh terangkat sesuai ombak. Akhirnya balik ke kapal ambil baju pelampung kemudian kembali ke tempat teman-teman pada ngumpul.

Kawan-kawan pada ngumpul di tempat air yang warnanya gelap, kukira dalam jadi kaki bebas menggoyang, tenyata air yang warnanya gelap itu dangkal 'banget'. Akibatnya lutut kaki tergores karang-karang, asal mau berenang pasti tergores. Malah air yang warnanya bening itu justru agak dalam. Jadi ketipu sama alam. Sampai tulisan ini dibuat luka masih dalam proses penyembuhan.

Salah satu pemandangan bawah laut
Puas bermain air, kita ke pantai duduk di rumah makan di pinggir pantai minum air kelapa muda, makan gorengan. Setelah itu kita diantar balik ke penginapan. Di penginapan, acara berlanjut ke penangkaran hiu milik Wisma Apung. Berburu hiu pari, berfoto-foto bersama bintang laut, mengejar-ngejar hiu (bukan saya yang mengejar).

Selesai bermain, mandi, makan, kemudian tidur menunggu keesokan harinya.

待续...


Wednesday, June 4, 2014

Escape to Karimunjawa (II)

Jam 4 sore, hari pertama di Karimunjawa. Acara snorkeling dll baru dimulai esok harinya. Jadi sisa hari ini bebas. Di sekeliling penginapan yang ada hanya laut. Hiburan paling menghibur di penginapan adalah kolam ikan yang didalamnya berisi anak hiu (jinak), ikan buntel, hiu pari, bintang laut, dan ikan-ikan belang kecil yang (katanya) mengigit. Lebih pilih berenang di luar aja.

Sunset di Karimunjawa
Akhirnya kita berenam memilih untuk berenang di sekitar penginapan. Biar aman, aku nanya sama pemilik penginapan boleh berenang ga, katanya boleh cuman pake selop takutnya kena bulu babi. Selop sih ada, hanya kan repot kolo berenang pake selop, pasti lepas.

Lima orang temanku turun satu persatu. Aku masih mengamati keadaan, sudah lama ga berenang. Tapi bukan itu masalahnya. Masalah utamanya adalah bulu babi yang bertebaran dimana-mana seperti ranjau. 
Kawan-kawan paling depan 'buka jalan', jadi aku ikutin aja dari belakang. tapi sial, mereka lebih cepat sebentar saja jarak saya dengan mereka sudah jauh. Mau balik ke penginapan juga jaraknya sudah cukup jauh. Dan inilah yang terjadi:

Kawan 1 : Awas disini ada bulu babi!!
Saya : Apa!!
Kawan 2 : (dari arah lain) Di sini juga ada bulu babi!!!
Saya : Apaa!! (mampus nih)
Kawan 1 : Disini ada bulu babi lebih banyak, hati-hati!!
Saya : Apaaaaaaaaaaaaaa......

Akhirnya saya nekad balik ke penginapan dibantu kawan-kawan. Salah satu kawan terkena duri bulu babi di kakinya. Jadi serba salah. Yang pertama kita cari pasti mas pemilik penginapan. Ternyata reaksinya tenang-tenang saja. 
Suasana (malam atau pagi??) di penginapan
Begini tipsnya kalau terkena duri bulu babi:
..Jangan mencoba mengeluarkan durinya, nanti durinya makin masuk kedalam.
..Ditekan-tekan aja, nanti hancur sendiri dan darah akan mendorongnya keluar.
..Untuk mengurangi rasa sakit pakai air seni.

Pelajaran pertama dari Karimunjawa, jangan main-main dengan bulu babi. Bulu babinya juga banyak macam ternyata, ada yang beracun. Warnanya juga bukan hanya hitam, ada yang putih. Durinya juga bukan hanya pendek, yang panjang 30 cm juga ada. Jadi jangan main-main.
Sejak itu juga, saya hanya turun ke laut kalau kaki pakai kaki bebek

Jam 6 di Jawa Tengah sudah gelap seperti jam 7 di Siantar.
Jam 6, genset dihidupkan saatnya ngecas gadget sambil menunggu makan malam jam 7 kemudian tidur.


to be continued...

Tuesday, June 3, 2014

Escape to Karimunjawa (I)

Perjalanan ke Karimunjawa dimulai dari pagi hari di Semarang. Setelah makan pagi kita berenam menyewa mobil menuju pelabuhan di kota Jepara. Karena jalanan lagi diperbaiki target 2 jam akhirnya molor menjadi 3 jam. Sesampainya di pelabuhan kita menunggu kapal datang lagi. Sambil menunggu kita nyari kantin duduk sambil makan mie instant sebagai makan siang.
Selfie sebelum naik kapal

Lebih kurang jam 2 kapal akhirnya datang. Memasuki kapal, di dermaga kita menyempatkan diri berselfie dengan tongsis. Mukanya masih ceria dengan senyum lebar. Kemudian kita memasuki kapal dan saya mendapatkan tempat duduk dekat jendela. Wah, asyik nih pikirku, nunggu kira-kira setengah jam kapal akhirnya berangkat. Beberapa menit ke depan masih bercanda-bercanda sama kawan. Bahkan beberapa kawan sempat ke lantai atas kapal, tapi tidak sampai lima menit sudah turun kembali karena kapal yang bergoyang cukup kencang ke kanan dan kiri. Setengah jam kemudian saya akhirnya meminta obat anti mabuk, denger lagu, dan mata tertutup. Dari jendela kapal bahkan terciprat air laut. Belum lagi nengok penumpang lain sudah ambil posisi dekat toilet. Belum lagi, karena dekat ac hembusannya terasa kencang di perut. Seakan belum cukup, pihak kapal memutar film di depan. Gimana kepala ga mau pusing, perut ga mau kembung??

Satu jam berlalu, kapal belum juga mendarat. Perut sudah ditutup dengan tas, di dalam otak terus terngiang kalimat "jangan muntah,jangan muntah", di dalam tas sudah ada tas kresek. Bau minyak kayu putih sudah tercium dari belakang.

Akhirnya, mesin kapal dihentikan setelah 2 jam. Rasanya lega, soalnya bau mie instan makan siang tadi sudah tercium, mungkin sudah naik ke tenggorokan. Kalau kapal berjalan lebih lama, sudah bisa dipastikan keluar (baca:muntah).

Begitu keluar kapal angin sore berhembus dan cuaca cukup bersahabat. Terlihat muka-muka pucat penumpang lain. Untung saja kita naik kapal ekspress 2 jam, bayangkan naik kapal lambat 5 jam???
Naik kapal 'sedang' ke Wisma Apung

Sesampainya disana kita dijemput pihak tour dengan mobil untuk kemudian dibawa ke dermaga yang lebih kecil. Yang bawa mobil juga tidak kalah kencang dengan naik kapal. Belok kiri tajam, belok kanan tajam, ngerem mendadak. Untung bukan dua jam.

Letak Wisma Apung 
Dari dermaga kita naik kapal ukuran sedang, body dari kayu tapi bermesin. Dengan kapal tersebut, kita menuju Wisma Apung, 'hotel' tempat kita menginap. Sekita 15 menit kita sampai. Sesuai namanya, 'hotel' ini terapung di tengah laut. Semuanya terbuat dari kayu, penopang bangunan, lantai dan dinding, kamar semua dari bahan kayu.
Salah satu sudut kamar

Di bawah terdengar aliran air laut yang memukul-mukul kayu. Itu masih pemanasan, kemudian kita mengecek kamar. Kamarnya kecil dialasi karpet hijau. Karpetnya untuk menyerap air laut dari bawah. Di atas karpet ada kasur untuk dua orang diletakkan tanpa penopang jadi bahasa kasarnya 'tidur di lantai'. Tapi buat aku tidak masalah. Di dinding tergantung cermin dengan bingkai yang ukirannya rumit, bingkainya lebih besar dari cerminnya. Di atasnya tergantung kipas angin kecil. Di samping cermin ada saklar lampu dan colokan dua buah ditambah accesoris cok sambung yang tidak berfungsi lagi.

Nah, bintangnya adalah kamar mandinya. Di belakang kamar ada pintu menuju kamar mandi, di dalamnya ada jendela terbuka langsung tanpa apa-apa yang menghadap kelaut. Di langit-langit ada tali untuk menjemur baju. Lantainya terbuat dari kayu yang tersusun jarang, jadi antara satu kayu dengan kayu lain ada lobang. Di tengah adalah jamban ditahan dengan papan, lobang jamban langsung terhubung ke bawah laut. Wow, silahkan dibayangkan sendiri. Kalau lagi pasang, air laut akan muncrat ke atas, terus kadang-kadang ada kepiting kecil yang merayap ke atas.
Katanya di bawah ada ikan pemakan kotoran, tapi saya tidak pernah perhatikan ikannya makan kotoran.

Listrik berasal dari genset yang hanya hidup dari jam 6 sore sampai jam 4 pagi.

Petualangan di Karimunjawa telah dimulai, Lol!!!

bersambung....