Judul : Negeri 5 Menara
Pengarang : A. Fuadi
Apa yang membuat aku tertarik membeli buku ini? Sampulnya!! Dan sewaktu membuka buku ini, (dimana aku selalu melihat halaman belakangnya) aku cukup terkejut karena ada begitu banyak pujian-pujian untuk buku ini. Tak sabar, aku segera menuju halaman pertama dan mulai membaca. Dan, novel ini juga ditulis atas dasar kehidupan sang penulis, sehingga itu juga menjadi nilai plus untuk buku ini.
Di cerita pertama, penulis membawa cerita singkat dinginnya Washington DC kepada pembaca kemudian cerita dimundurkan ke masa kecil sang penulis. Tokoh utama, Alif Fikri (sang penulis sendiri) baru saja menyelesaikan pendidikan Madrasah Negeri (setingkat SMP) dan itu berarti keinginan Alif untuk masuk ke SMA akan terwujud.
Namun, sang ibu menginginkan Alif untuk sekolah madrasah lagi, Di sinilah titik balik cerita ini dimulai. Keinginan Alif dan ibunya yang saling bertolak. Pada akhirnya, Alif setuju untuk sekolah pesantren namun di Pondok Madani atas saran pamannya. Ibu Alif setuju.
Kemudian pergilah Alif ke Pondok Madani, ternyata untuk matasuk ke Pondok Madani, ada tes yang membuat Alif terkejut. Namun akhirnya, dia berhasil lulus dan resmi menjadi murid di Pondok Madani.
Di Pondok Madani banyak hal yang membuat Alif cukup kesulitan menyesuaikan diri di tahun pertama. Karena Pondok Madani benar-benar merupakan Pondok modern. Dimana bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris atau Bahasa Arab (Sekolahku sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan Pondok Madani). Di Pondok Madani, segala sesuatu yang diajarkan benar - benar mencapai limitnya.
Di Pondok ini juga, Alif berteman dengan orang-orang dari berbagai daerah yang dia namai Sahibul Menara.
Ternyata sekolah di Pondok tidaklah seburuk yang dia kira.
Penulis menulis cerita dengan detail namun tidak membosankan. Sarat nilai-nilai kehidupan. Menurut aku, tidak ada gunanya aku menceritakan betapa bagusnya buku ini kalau kalian sendiri tidak membacanya. Tapi, bagi aku, buku ini berhasil menginspirasi saya. So, 10 out of 10. Layak, layak, layak dibaca.
Terakhir, mengutip kalimat paling populer yang menjadi inti cerita ini, 'man jadda wajada' yang artinya Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Ga bakal nyesal baca buku ini!

No comments:
Post a Comment