Judul : Ranah 3 Warna
Pengarang : A. Fuadi
Buku ini merupakan buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Dan kalau di buku pertama-Negeri 5 Menara, menceritakan awal kisah Alif menghadapi kehidupan di Pondok Modern Madani. Dan kalau inti cerita di buku pertama mengutip kalimat 'man jadda wajada' yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Di buku kedua ini ditambah lagi satu mantra 'Man Shabara Zhafira' yang artinya siapa yang bersabar akan beruntung. Kedua kalimat atau mantra inilah yang menjadi inti dan makna dari buku ini.
Di awali dengan Alif yang pulang kampung setelah menamatkan pendidikan di pondok. Alif kemudian bertekad untuk masuk ke perguruan tinggi. Untuk itu, Alif harus mengikuti ujian persamaan kemudian UMPTN. Tentu saja, Alif harus belajar ekstra keras karena tidak pernah belajar mata pelajaran SMA. Di sini penulis ingin menunjukkan bahwa dengan mental, kemauan dan doa semua keinginan bisa tercapai. Dan Pondok Madani telah mengajarkan itu semua. Akhirnya, Alif berhasil lolos semua ujian dan masuk ke perguruan tinggi jurusan Hubungan Internasional. Walaupun tidak sesuai dengan mimpinya untuk masuk jurusan penerbangan, namun Alif tetap percaya itu yang terbaik baginya.
Kemudian kisah berlanjut ke kehidupannya semasa kuliah. Kehidupannya sebagai anak kos. Bertemu dengan wanita yang akhirnya membuat dia jatuh cinta, namun tidak pernah diungkapkannya. Bagaimana dia belajar menulis dengan guru yang super 'killer'.
Sewaktu kuliah, ayahnya akhirnya meninggal dunia. Dan di bagian ini penulis cukup membuat terharu. Bagaimana dia begitu mencintai ayahnya yang tidak sempat melihat dia lulus kuliah.
Kemudian Alif yang menjadi anak yatim sekarang harus berjuang menghidupi dirinya sendiri karena ibunya tidak bisa mengirim uang lagi. Alif berjuang dengan keras mencari uang namun gagal kemudian menjadi penulis artikel di koran yang akhirnya mampu menghidupinya.
Dan lagi-lagi di sini mental, kerja keras, dan doa yang Alif dapat dari Pondok Madani berhasil membantunya.
Kemudian, setelah berhasil keluar dari segala kesusahan Alif ingin menunaikan cita-citanya yaitu pergi ke benua Amerika. Alif kemudian mendapat kesempatan untuk ke Quebec, Kanada selama berbulan-bulan dan gratis. Di Quebec, Alif berkesempatan tinggal dengan keluarga baru yang baik, belajar bahasa Prancis (penduduk kota Quebec berbahasa Prancis).
Dan, perjalanan ke Quebec ini menjadi cerita akhir dari buku ini. Di bab terakhir menurut saya yang paling mengharukan bagaimana ibu Alif datang untuk melihat Alif diwisuda. Di bagian akhir ini juga, Alif yang akhirnya berani menyatakan perasaannya kepada Raisa terpaksa harus mundur karena Raisa telah bertunangan.
Buku ini benar-benar lengkap untuk suatu 'petualangan menghadapi hidup'. Kalau ada yang bilang "terlalu berharga untuk dilewatkan" mungkin buku inilah yang dimaksud.
Tidak sabar menunggu buku ketiganya.

No comments:
Post a Comment