Pages

Friday, June 6, 2014

Escape to Karimunjawa (IV)

Tanggal 25, hari ketiga di Karimunjawa.

Selesai sarapan, langit mendung. Kemudian hujan deras, hampir mirip badai dan semuanya mengungsi ke kamar. Sekitar satu jam kemudian, hujan berhenti.

Hari ini, kegiatannya adalah diving. Tapi yang ikut cuman lima orang teman saya. Saya belum berani ikut.
Siap siap (ga jadi) diving
Guide divingnya datang dan briefing sesaat tentang cara-cara diving. Setelah selesai, kami dibawa ke laut di dekat Pulau Menjangan (lupa ntah yang besar atau kecil). Sekali diving itu dua orang ditambah guidenya. Diver pertama dua orang turun, sesaat kemudian naik kembali, trip kedua turun kemudian naik. Trip ketiga tinggal satu orang. Karena tabung oksigen masih sisa, aku tiba-tiba ingin ikut. Oke, wet suit dipakai, pemberat dipasang, tabung oksigen dipasang. Turun ke laut yang masih dangkal, tiba-tiba rasa takut datang, hidung ga enak ditambah guidenya bilang "kalau pilek nanti dibawah kepala akan sakit". Jadinya saya batal.

Sebenarnya rasa takut ini mungkin karena diving tiba-tiba langsung ke lapangan. Aku sih maunya belajar diving dari awal sampai mendapat license.
Dari teman sih katanya diving di dalam pemandangannya keren.

Sambil menunggu, jadinya snorkeling sendirian, lagian airnya lebih jernih dibanding spot kemarin. Dan kali ini tidak pakai baju pelampung sama sekali. Ternyata memang tidak apa-apa, cuman kaki harus bergerak terus.
Teman lainnya sambil menunggu, berburu ikan pari. Hasilnya dapat dua pari, satu ikan kecil.

Makan siang di Pulau Menjangan, pasirnya memang tidak seindah pantai kemarin. Tapi disini ada Resort, tidak ramai. Suasananya tenang, bahkan kita bisa kano keliling pulau. Menu makan siang salah satunya pari yang ditangkap, dibakar. Rasanya fresh ditambah sambal. Penutupnya adalah buah semangka.

Selesai makan, kami dibawa ke sebuah penangkaran ikan hiu. Tempatnya dekat dengan Wisma Apung. Mungkin hanya 10 menit naik kapal. Penangkaran disini lebih besar dan lebih lengkap. Ikan hiunya lebih besar dan warnanya lebih gelap. Untuk berenang bersama ikan hiu, kita harus bayar. Dari kita enam, cuman tiga orang yang masuk dan berenang.


Aku ada disini???? 
Di penangkaran sini juga tersedia permainan banana boat, jump boat. Akhirnya kita berenam coba banana boat. Ini PERTAMA kali aku naik banana boat. Begitu naik pegangan banana boat dipegang erat. Didepan ada speed boat yang menarik. Pelan-pelan, kemudian tiba-tiba cepat dan boat yang kita naiki terbalik. Aku masih memegang erat pegangannya, sedangkan yang lain semua melepas pegangan dan sudah terapung di atas laut. Jadilah tinggal aku yang diseret terus mungkin 30 detik sampai yang bawa speedboat menyadari ada aku yang masih tertinggal. Rasanya diseret itu sesak, teman lain sudah pada horor nengok aku terseret apalagi di bawah ada karang dan bulu laut yang tersebar. Untungnya tidak terjadi apa-apa. Sisa 15 menit aku hanya duduk di samping supir speedboat, tinggal teman lainnya yang bermain speedboat.

Pelajarannya kalau naik speedboat, jangan pegang terus tuh pegangan kalau jatuh dilepas saja kan uda pakai pelampung. Dan yang terpenting, mungkin untuk waktu lama aku tidak akan mencoba banana boat lagi. Kalau ga salah, di sini juga salah satu teman tertusuk bulu babi lagi. Dan habis jadi tontonan turis. Memang tidak berhasil naik banana boat tapi aku sudah berhasil diseret bersama banana boat. Keren!!
Foto bersama ikan buntel


Selesai banana boat, kita ke penangkaran sebelah. Di sini tersedia ikan buntel (yang bisa mengembang dan berduri seperti ikan fugu), penyu, hiu pari. Untuk berfoto kita harus bayar 5000 rupiah. Kalau foto dengan penyu terlalu berat, jadinya aku pilih foto dengan ikan buntel. Petugas disana memijat-mijat ikannya hingga mengembang kemudian kupegang. Kalau tajam sih enggak, seperti pegang buah durian hanya disini ikan berdenyut-denyut dan bisa mengempis. Kalau mengempis harus dimasukkan ke air lagi.

Sorenya kami kembali ke Wisma, selesai mandi berita buruk itu datang. Besok cuaca buruk dan kapal tidak bisa jalan. Seharusnya besok kita sudah kembali ke Jepara. Aku pergi ke Yogya dan kawan ada yang balik naik pesawat. Selama ini memang tidak terpikir akan cuaca di laut. Kalau saya sih, ruginya satu hari di Yogya harus hangus. Tapi tiga kawan lain terpaksa harus mengganti jadwal penerbangan, karena sudah terlanjur membeli tiket pulang. Parahnya lagi, tidak ada kepastian kapan kapal bisa berangkat lagi karena cuaca disana ternyata tiap hari diupdate, tidak bisa tahu cuaca dua hari kedepan. Yang mau ke Karimunjawa tidak bisa datang, yang mau pulang dari Karimunjawa juga tidak bisa berangkat. Jadi besok kita benar-benar terisolasi.

Selesai mengurus tiket, menelepon ke rumah, kita semua sepakat besoknya pindah penginapan.

Makan, tidur dan menunggu keesokan harinya. Mungkin hujan di pagi hari itu pertanda. Siapa yang tahu??

ser continuado...

No comments:

Post a Comment